WOMEN CLASS

Sampai dengan tahun 2014, Pemerintah Indonesia masih berjuang untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dalam konteks ASEAN, pemerintah Indonesia bersama dengan negara-negara anggota ASEAN berkomitmen untuk melakukan penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui 8 langkah yang tertuang dalam Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dn Anak di ASEAN pada tahun 2013. Ini menambah panjang komitmen pemerintah Indonesia untuk penegakan hak asasi perempuan di Indoensia setelah ratifikasi CEDAW tahun 1987. Di tingkat lokal Magelang, pemerintah kabupaten Magelang  membuat Surat Keputusan Bupati No. 188/2005 tentang jaringan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Surat Keputusan ini diperbarui sepanjang tahun.

 

Semua aturan perundangan dan kebijakan tentang penghapusan kekeraan terhadap perempuan serta implementasinya menjadi salah satu syarat penegakan hak asasi perempuan.  Namun syarat yang tak kalah penting lainnya adalah kekuatan dari perempuan itu sendiri baik perempuan yang pernah mengalami maupun perempuan yang berpotensi mengalami kekerasan. Sahabat Perempuan percaya bahwa setiap perempuan punya kekuatan untuk melawan penindasan. Namun dalam masyarakat patriarkhi, kekuatan perempuan sering dinafikan bahkan ditekan agar tidak muncul, tumbuh dan berkembang. Itulah penindasan. Dengan berbagai dalih, penindasan tersebut berlangsung berpuluh puluh tahun dan sistemik sehingga menjadikan perempuan sendiri tidak merasa dirinya mengalami kerugian atau menjadi korban. Perempuan kemudian menjadi pasif dan membiarkan kekerasan terus terjadi dan menimpanya.

 

Dalam rangka memunculkan kekuatan perempuan, terutama perempuan yang menjadi korban kekerasan dan perempuan desa pemimpin komunitas, Sahabat Perempuan bekerjasama dengan Srikandi serta dukungan dana dari Taiwan Foundation for Democracy akan menyelanggarakan sekolah perempuan. Kata kunci dari keberhasilan sekolah ini adalah akses perempuan, kontrol, kebutuhan taktis dan kebutuhan strategis serta perubahan perempuan dari korban menjadi survivor dan survivor menjadi agen perubahan. Pertama, sekolah ini dilandasi oleh kepercayaan bahwa perepuan mempunyai kekuatan untuk melawan dan berkata tidak pada kekerasan sserta sisterhood yang terbangun menjadi tambahan bagi kekuatan itu sendiri. Sekolah perempuan diharapkan menjadi salah satu pintu perempuan untuk mendapat akses informasi  pengetahuan dan kemampuan  yang akan memungkinkan perempuan untuk memperoleh akses yang lain seperti ekonomi dan partisipasi publik. Kedua, dengan kepemilikian berbagai akses tersebut, tahap selanjutnya diharapkan perempuan mampu memilih dan memutuskan atas hidupnya dan kekerasan yang pernah atau sedang menimpanya. Pada tahap inilah sekolah perempuan diharapkan mampu mendorong perempuan peserta untuk mengambil kontrol atas dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Ketiga, sekolah ini diharapkan mampu menjawab kepentingan taktis dan staregis perempuan peserta secara teori.  Dua jangkauan ini penting agar perempuan tidak terjebak dalam kekerasan yang menimpamya saja, dalam waktu sesaat tapi juga mapu mengantisipasi akibat lanjut dari kekerasan terebut dimasa sekarang maupun mendatang. Keempat, tahapan ini merupakan tahan akhir yang membutuhkan proses paling panjang dan tidak setiap orang ada pada titik yang sama, yaitu merubah perempuan korban menjai survivor dan selanjutnya merubah survivor menjadi agen perubahan. Dalam bahasa Sahabat Perempuan, perempuan mampu menjadi motivator. Pada tahapan inilah, peserta sekolah perempuan diharapkan mampu mengaplikasikan materi hasil belajar dalam kehidupannya sehari-hari.

 

Waktu Pembelajaran :

April- selesai 2014 (13 pertemuan), dilakukan setiap hari Kamis.

 

Materi : Terlampir (berdasar hasil assesment di Workshop Sekolah Perempuan yang dilakukan Maret 2014)

 

Metode pembelajaran : Sekolah ini menggunakan metode pembeljaran orang dewasa

 

Peserta : 10-15 orang.